Prospek dan Kinerja Saham TLKM yang Menjanjikan di Era Pandemi

  • Share
saham tlkm

Saham TLKM – Salah satu perusahaan telekomunikasi dan informasi yang menyediakan layanan jaringan telekomunikasi di Indonesia adalah PT Telkom. Perusahaan ini telah cukup lama berdiri di Indonesia, bahkan telah dirintis sejak zaman kolonial. Selanjutnya, dikukuhkan sebagai perusahaan negara tahun 1961 dan dikenal dengan nama PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Kemudian, pada tanggal 1 Mei 1991 badan hukum perusahaan bertransformasi menjadi perseroan. Di mana, nama PT Telekomunikasi Indonesia lebih dikenal masyarakat dengan sebutan PT Telkom. PT ini melakukan penawaran umum perdananya melalui Bursa Efek Jakarta tepat pada tanggal 14 November 1995, dengan kode emiten perseroannya yaitu TLKM.

Perlu Anda ketahui, kini sebanyak 52,09 persen TLKM telah dimiliki oleh Pemerintah dan sisanya 47,91 persen dimiliki para investor. PT Telkom mempunyai 10 anak perusahaan yang dikontrol secara langsung oleh perusahaan. Mulai dari telekomunikasi, penyedia konten digital, bisnis satelit, sampai penyewaan menara.

Salah satu anak perusahaan PT Telkom yang terbesar adalah Telkomsel. Di mana, menguasai hampir 60 persen pangsa pasar pelanggan industri seluler di Indonesia. Menurut catatan data tahun 2019, jumlah pelanggannya mencapai 171,1 juta pelanggan di Indonesia. Selain itu, masih ada anak perusahaan lain yang melayani kebutuhan para klien korporasi seperti ICT Services.

Handalnya Kinerja Keuangan dari TLKM

Saham TLKM termasuk sebagai saham grade A di bursa Indonesia. Di mana, TLKM juga masuk dalam daftar saham-saham LQ45 yang berisi 45 saham paling likuid. Tak hanya itu, TLKM juga digolongkan sebagai saham lapis pertama atau Bluechip yang kerap dijadikan andalan para manajer investasi di Indonesia.

Baca Juga  Harga Saham LRNA Hari ini

Tentunya bukan tanpa alasan mengapa TLKM dijadikan andalan investasi di Indonesia. Diketahui, dari data keuangan TLKM konsisten mengalami pertumbuhan pendapatan dan laba selama 5 tahun terakhir sejak tahun 2019. Walaupun pada tahun 2018, TLKM mencatat penurunan laba bersihnya hingga 18,56 persen.

Adanya penurunan laba tersebut disebabkan oleh naiknya beban operasional, pemeliharaan, hingga jasa telekomunikasi. Banyaknya biaya yang harus digelontorkan pada waktu itu adalah Rp43,79 Triliun, lebih besar daripada tahun sebelumnya yaitu Rp36,6 Triliun. Sehingga margin laba perusahaan TLKM per 2018 hanya 29,7 persen, turun dari 34,25 persen pada tahun 2017.

Pandemi Covid-19 tidak Membuat Kinerja Keuangan TLKM Kendor

Tahun 2020, tepatnya di tengah pandemi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang negatif, TLKM tidak mengalami kontraksi keuangan. Di mana, TLKM masih mampu berkinerja positif dan membuat kinerja keuangannya tetap stabil. Kemudian, TLKM membukukan penyusutan pendapatan tahunan selama 9 bulan yang telah berakhir pada September 2020 lalu.

Dari hasil rincian, kontribusi terbesar masih datang dari segmen data, internet, serta jasa teknologi informatika TLKM. Selain itu, pendapatan konsolidasi sebelum penyesuaian dari segmen ini tercatat sebesar Rp 56,45 triliun. Melambung sebesar 36,88 persen secara Year on Year (YoY) dari yang sebelumnya Rp41,24 triliun.

Selanjutnya, disusul dengan pendapatan dari Indihome. Indihome berhasil menyetorkan pendapatan utamanya sebesar Rp16,11 triliun. Dari pendapatan tersebut, segmen bisnis layanan internet broadband dan televisi berlangganan ini naik menjadi 16,48 persen. Dari yang sebelumnya hanya menyumbangkan Rp13,76 triliun.

Kemudian, pendapatan interkoneksi TLKM juga mengalami kenaikan, yakni sebesar 26,49 persen. Dari yang awalnya Rp4,76 triliun menjadi Rp6,03 triliun. Tak hanya itu, pendapatan yang lainnya juga ikut naik sebesar 16,48 persen dari Rp 3,02 triliun menjadi Rp3,52 triliun.

Baca Juga  Harga Saham LAND Hari ini

Prospek Bisnis TLKM yang Bisa Diandalkan

Pada masa mendatang, sumber pendapatan utama dari TLKM adalah dari IndiHome dan bisnis digital data internetnya. Manager dari TLKM sendiri dalam berbagai kesempatan telah mengatakan bahwa perseroan secara perlahan akan mulai meninggalkan bisnis telepon dan SMS-nya. Dengan demikian, mereka akan beralih ke data internet sepenuhnya.

Perlu diketahui, TLKM telah membelanjakan modalnya (Capital Expenditure) senilai Rp17,9 triliun. Di mana, sebagian besar untuk penguatan infrastruktur guna meningkatkan kualitas layanan dari PT Telkom ini. Menariknya, TLKM melihat pandemi sebagai peluang untuk menghadirkan banyak solusi layanan digital yang bisa lebih membantu aktivitas masyarakat.

Anak perusahaan dari TLKM yakni Telkomsel, sudah semakin mantap untuk melakukan transformasi bisnis telekomunikasi digital. PT Telkom sendiri baru saja menandatangani perjanjian jual beli bersyarat dengan Mitratel, anak perusahaan TLKM yang lain. Hal ini dilakukan untuk mengalihkan kepemilikan dari 6.050 menara telekomunikasi.

Setelah jual beli tersebut, Telkomsel memperoleh dana Rp10,3 triliun yang akan digunakan sebagai investasi pengembangan ekosistem digital. Mulai dari bisnis Digital Platform, Digital Connectivity, hingga Digital Service. Dengan semakin tingginya kontribusi layanan data ini, menunjukkan prospek bisnis dari TLKM bisa diandalkan.

Adanya UU Cipta Kerja mengenai infrastruktur telekomunikasi, tentunya juga akan menguntungkan bisnis TLKM. Hal ini disebabkan perusahaan bisa mengurangi biaya investasi jaringan karena tinggal menyewanya dari pemerintah saja. Dari dampak pandemi ini, menjadikan prospek bisnis digital TLKM di masa mendatang akan sangat menjanjikan.

Lantas, Bagaimana dengan Harga Saham dari TLKM Ini?

Statusnya yang sebagai pangsa pasar, sepertinya agak sulit untuk membandingkan TLKM dengan para pesaingnya. Misalnya, seperti XL Axiata (EXCL) dan Indosat (ISAT) yang secara perhitungan masih berada di bawah TLKM tersebut. Salah satu cara yang paling sederhana untuk melakukan perbandingan tersebut ialah menggunakan Relative Valuation Approach.

Baca Juga  Harga Saham MABA Hari ini

Relative Valuation Approach ini, seperti Price to Earning (P/E) ratio dan Price to Book Value (PBV) ratio. Dari harganya sekarang P/E ratio TLKM 15,5x, begitu pula dengan PBV-nya. Sekarang, PBV TLKM ada di angka 3.39x yang juga merupakan level yang sangat rendah dalam lima tahun terakhir belakang.

Sehingga, ROE yang sebesar 21,87 persen membuat valuasi TLKM menjadi sangat menarik. Tak hanya itu, pembelian saham dari TLKM ini menjadi strategi Dividend Play yang sangat baik. Mengingat, TLKM tidak pernah absen dalam pembagian dividen selama 24 tahun ke belakang hingga saat ini.

Adanya fakta tersebut, membuat berinvestasi di TLKM memiliki Cash Flow yang terjamin. Uang tunai sebesar Rp 55 triliun yang didapatkan dari pelanggan (Cash Flow from Operation) bisa menjadi jaminan oleh para investor. Selain itu, Capital Gain yang diperoleh dari saham ini bisa dianggap sebagai bonus untuk para pemilik saham tersebut. Wah, sangat menarik bukan?!

Dari sini bisa disimpulkan bahwa TLKM merupakan perusahaan yang sangat bagus untuk berinvestasi. Mengingat, adanya konsistensi dalam pembagian dividen untuk para pemegang saham. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan profit dari harga saham yang terus meningkat setiap tahunnya. Sehingga, keuntungan yang akan diperoleh juga makin besar lagi.

Itulah dia pembahasan saya mengenai prospek dan kinerja saham TLKM ini. Nah, bagi Anda yang hendak berinvestasi tidak ada salahnya untuk mencoba membeli saham dari TLKM ini. Cukup sekian pembahasan saya kali ini, semoga bisa membantu Anda yang ingin berinvestasi di sini ya! Selamat mencoba!

  • Share